Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan ? (Kisah Nyata)

June 3rd, 2008 by anastacia105

story given from my very bestfriend Sendie

 

Apakah Tuhan
menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan
kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang
mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, ”Apakah Tuhan menciptakan segala
yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, ”Betul, Dia yang
menciptakan semuanya”.”Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi.

 

”Ya, Pak,
semuanya’ kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, ”Jika Tuhan
menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan. Karena kejahatan
itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita,
jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu
terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut.

 

Profesor itu
merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan
kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, ” Profesor, boleh saya
bertanya sesuatu?”

 

”Tentu
saja,”jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, ”Profesor, apakah
dingin itu ada?”
”Pertanyaan
macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” tanya
si profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

 

Mahasiswa itu
menjawab, ”Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang
kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan
panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada
suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan
panas.

 

Mahasiswa itu
melanjutkan, ”Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, ”Tentu
saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, ”Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu
juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita
pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan
cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap
warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur
dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia
untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

 

Akhirnya
mahasiswa itu bertanya, ”Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang
profesor itu menjawab, ”Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.
Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan
di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

 

Terhadap
pernyataan ini, mahasiswa itu menjawab,”Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan
itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap,
kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan
Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak
adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan
panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

 

Profesor
itu terdiam.

Nama
mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Love Lesson - from Sendie

June 3rd, 2008 by anastacia105

Cinta itu seperti
kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari.
Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang di saat kamu tidak
mengharapkannya.

 

Cinta dapat
membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih.

 

Cinta baru
berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi jangan
terburu-buru, dan pilihlah yang terbaik.

 

Cinta bukan
bagaimana menjadi pasangan yang ”sempurna” bagi seseorang. Tapi bagaimana
menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri. Dan karena
itu kamu sempurna.

 

Jangan pernah
bilang ”I love you” kalau kamu tidak perduli.

 

Jangan pernah
membicarakan perasaan yang tidak pernah ada.

 

Jangan pernah
menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya.

 

Jangan pernah menatap
matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya kebohongan.

 

Hal paling kejam
yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta,
sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya.

 

Cinta bukan, ”Ini
salah kamu”, tapi ”Maafkan aku”.

Bukan ”Kamu
dimana sih?”, tapi ”Aku disini”.

Bukan ”Gimana si
kamu?”, tapi ”Aku ngerti kok”.

Bukan ”Coba kamu
gak kayak gini”, tapi ” Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya”.

 

Kompatibilitas
yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun
berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu
saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.

 

Kesedihan dan
kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu
izinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan
kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.

 

Jatuh cintalah
tanpa terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan
bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut, sedih
tapi jangan pernah simpan kesedihan itu.

 

Memang sakit
melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain tapi lebih
sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak bahagia bersamamu.

 

Cinta akan
menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang. Menyakitkan apabila kamu
dilupakan oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila
seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.